Hiduplah sesuai panggilanmu: rendah hati, lemah lembut, sabar, saling membantu dalam kasih, memelihara kesatuan Roh._
*PEKAN BIASA XXIX - Jumat, 23 Oktober 2026*
*Soverdi Oebufu*
*Bacaan I: Efesus 4:1-6* - _Hiduplah sesuai panggilanmu: rendah hati, lemah lembut, sabar, saling membantu dalam kasih, memelihara kesatuan Roh._
*Bacaan Injil: Lukas 12:54-59* - _Kamu tahu membaca tanda-tanda alam, mengapa tidak membaca tanda-tanda zaman? Berdamailah dengan lawanmu selagi di perjalanan._
---
Saudara-saudara terkasih................................., Hari ini Santu Paulus dan Yesus mengajar kita dua hal yang menjadi napas pejuang JPIC: *Keutamaan dan Kepekaan.*
Satu di dalam hati, satu di luar mata.
*I. HIDUP SESUAI PANGGILAN - KEUTAMAAN YANG MENJADI KARAKTER*
Efesus 4:1-6 adalah cermin untuk kita semua. Paulus bilang: "Hiduplah berpadanan dengan panggilanmu."
Panggilan kita bukan hanya jadi pastor, suster, Fasilitator. Panggilan kita adalah menjadi murid. Dan murid punya seragam, yaitu keutamaan.
Apa itu keutamaan? *"Keutamaan itu menunjuk pada tindakan kebaikan yang dilakukan berulang-ulang tanpa memikirkannya. Perbuatan baik itu telah menjadi bagian dari hidup dan karakter kepribadiannya."*
Bukan kebaikan insidental karena ada tamu. Tapi kebaikan yang sudah menjadi karakter.
Paulus sebut lima (5) keutamaan JPIC hari ini:
*1. Rendah hati:* Tidak merasa paling tahu tentang semua adat istiadat. Mau mendengarkan mama yang buta huruf tapi tahu nilai doa bersama.
*2. Lemah lembut:* Tidak memarahi korban yang kembali lagi ke negeri rantau lewat jalan belakang-non prosedural. Kita lemah lembut karena kita tahu lukanya dalam.
*3. Sabar:* Sabar mendampingi kasus yang dua tahun tidak selesai di pengadilan. Sabar seperti Paulus.
*4. Saling menolong dalam kasih:* Saling menopang dan saling menolong. Laki-laki dan perempuan saling menolong, seperti janji nikah yang mereka ucapkan.
*5. Memelihara kesatuan:* Yahudi dan non-Yahudi disatukan. Kemak dan bunak, Tetum dan Dawan, Timor dan Flores disatukan. Korban dan pendamping disatukan dalam satu keluarga Allah.
Jika keutamaan ini belum menjadi karakter, iman kita masih kekanak-kanakan. Murid yang dewasa itu berani meninggalkan dosa-dosanya. Ia tidak munafik, tidak menipu diri dengan berkata "saya pejuang" padahal hatinya masih kikir, masih suka pesta pora dan judol.
Bagi murid yang dewasa, kedatangan Yesus sebagai hakim bukan menakutkan, tapi menjadi saat pembebasan. Karena ia sudah hidup dalam kebenaran.
*II. MEMBACA TANDA-TANDA ZAMAN - KARENA ALAM PUN BERBICARA*
Lalu Yesus dalam Lukas menegur kita: "Kamu pandai membaca tanda alam: kalau angin barat datang, hujan akan turun. Kalau angin selatan berhembus, hari akan panas. Mengapa kamu tidak pandai membaca tanda-tanda zaman?"
*"Tanda alam itu cara Tuhan membahasakan pesan-Nya bagi kebaikan dan keselamatan manusia."*
Di Timor, kita sangat pandai membaca tanda alam:
- Kalau daun asam mulai rontok, kemarau panjang akan datang.
- Kalau langit merah di sore hari, besok angin kencang.
- Kalau air di kampung keruh, berarti mata air di atas sudah kering.
Tapi apakah kita pandai membaca tanda-tanda zaman untuk keselamatan manusia?
Mari kita baca tanda zaman di kampung-kampungi:
- *Rumah tidak layak huni, anak putus sekolah, pengangguran:* Itu bukan nasib. Itu tanda zaman bahwa sistem ekonomi kita tidak adil, bahwa ada yang harus kita ubah.
- *Anak muda diam-diam berangkat tanpa dokumen, KDRT naik, judol merajalela:* Itu tanda zaman bahwa ada kekosongan harapan, ada yang merusak keluarga kita. Itu tanda hadirnya kerajaan kegelapan yang harus dilawan.
- *Mama-mama berani menulis nilai hidup: doa bersama, kerja sama, kejujuran:* Itu tanda zaman yang paling indah, bahwa Kerajaan Allah sudah dekat. Bahwa Roh Kudus sedang bekerja di hati yang kecil.
Yesus adalah tanda hadirnya Kerajaan Allah yang paling jelas. Ia datang dan berkata: "Masih ada waktu untuk mengambil keputusan. Berdamailah dengan lawanmu selagi di perjalanan."
Jangan tunggu sampai di pengadilan akhir. Hari ini, selagi masih di jalan menuju kampung-kampung, di jalan menuju Oebufu, berdamailah.
Berdamai dengan siapa?
- Berdamai dengan alam yang sudah kita rusak karena pesta pora berlebihan.
- Berdamai dengan sesama yang sudah kita sakiti dengan KDRT dan kata-kata patriarki.
- Berdamai dengan Tuhan yang kuasanya kita buat tidak aktif karena ketertutupan hati kita.
*III. UNTUK KITA HARI INI*
Saudara-saudara terkasih..........Jumat ini adalah hari untuk memeriksa dua hal:
Di dalam: Apakah keutamaan sudah menjadi karakterku? Apakah saya sudah rendah hati, lemah lembut, sabar tanpa harus dipaksa?
Di luar: Apakah saya peka membaca tanda zaman? Atau saya hanya pandai baca cuaca, tapi buta terhadap air mata tetangga yang menderita?
Jika dua hal ini ada, maka kita adalah murid yang matang. Kita tidak akan menipu diri.
Kita akan melihat setiap tanda alam - kemarau panjang, kurang air - sebagai panggilan Tuhan untuk berbagi. Kita akan melihat setiap tanda zaman - perantau tanpa dokumen, koperasi utang - sebagai panggilan Tuhan untuk bertindak.
Dan ketika Yesus datang sebagai Hakim, Ia tidak akan menghukum kita. Ia akan membebaskan kita, karena kita sudah hidup dalam keutamaan.
*Soverdi Oebufu, Jumat 23 Oktober 2026*
*P. Domi K. Dheo, SVD*
*JPIC SVD Timor*