Wednesday,28 October 2026
Renungan

Renungan Jiwa JPIC SVD Timor: Jangan Hanya Pandai Membaca Cuaca, tetapi Peka terhadap Penderitaan Sesama

Boni Antolan 23 October 2026 06:38 44 dibaca
Renungan Jiwa JPIC SVD Timor: Jangan Hanya Pandai Membaca Cuaca, tetapi Peka terhadap Penderitaan Sesama

OEBUFU, RADAR PERBATASAN – Kepekaan membaca tanda-tanda zaman dan keberanian menghidupi nilai-nilai kebaikan menjadi panggilan penting bagi setiap orang beriman, terutama para pejuang Justice, Peace and Integrity of Creation (JPIC). Iman tidak cukup berhenti pada doa dan pengakuan diri sebagai murid Kristus, tetapi harus nyata dalam karakter, kepedulian terhadap sesama, serta tindakan melawan ketidakadilan.

Pesan tersebut menjadi inti Renungan Jiwa Pekan Biasa XXIX, Jumat, 23 Oktober 2026, yang ditulis P. Domi K. Dheo, SVD, dari JPIC SVD Timor, Soverdi Oebufu. Berlandaskan bacaan Efesus 4:1-6 dan Injil Lukas 12:54-59, renungan ini mengajak umat membangun dua fondasi kehidupan iman, yakni keutamaan yang menjadi karakter dan kepekaan membaca tanda-tanda zaman.

Dalam renungannya, P. Domi menegaskan bahwa panggilan menjadi murid Kristus tidak terbatas pada status sebagai pastor, suster, atau fasilitator. Setiap orang dipanggil untuk menghidupi nilai-nilai Injil melalui sikap dan tindakan sehari-hari.

Keutamaan Harus Menjadi Karakter

Mengacu pada surat Rasul Paulus kepada jemaat di Efesus, P. Domi mengingatkan pentingnya hidup sesuai dengan panggilan, melalui sikap rendah hati, lemah lembut, sabar, saling menolong dalam kasih, serta memelihara kesatuan.

Keutamaan, menurut refleksi tersebut, bukanlah kebaikan sesaat yang dilakukan karena kehadiran orang lain atau demi mendapatkan pujian. Keutamaan merupakan tindakan baik yang dilakukan berulang kali hingga menjadi bagian dari karakter seseorang.

Dalam konteks pelayanan JPIC, kerendahan hati berarti kesediaan mendengarkan masyarakat, termasuk para ibu di kampung yang mungkin tidak mengenyam pendidikan formal, tetapi memiliki kebijaksanaan dan nilai-nilai kehidupan yang diwariskan melalui tradisi.

Sikap lemah lembut juga diperlukan ketika mendampingi korban perdagangan orang atau pekerja migran yang kembali menempuh jalur nonprosedural. Pendamping tidak seharusnya terburu-buru menghakimi, melainkan berusaha memahami luka, tekanan, dan persoalan yang melatarbelakangi keputusan mereka.

Sementara itu, kesabaran dibutuhkan dalam mendampingi kasus-kasus yang berlarut-larut, termasuk ketika proses hukum belum memberikan kepastian. Kasih diwujudkan melalui kesediaan untuk saling menopang, baik antara laki-laki dan perempuan maupun di tengah keluarga dan masyarakat.

Adapun kesatuan harus melampaui perbedaan suku, bahasa, dan latar belakang. Kemak, Bunak, Tetum, Dawan, masyarakat Timor maupun Flores, serta korban dan pendamping, dipanggil untuk membangun persaudaraan sebagai satu keluarga Allah.

P. Domi mengingatkan bahwa pengakuan sebagai pejuang kemanusiaan harus sejalan dengan perilaku pribadi. Seseorang tidak dapat mengklaim dirinya memperjuangkan kebaikan apabila masih memelihara sikap kikir, kemunafikan, atau kebiasaan berjudi daring yang merusak kehidupan.

Kedewasaan iman, dengan demikian, terlihat dari kesediaan seseorang meninggalkan perilaku yang bertentangan dengan nilai-nilai kebenaran dan kasih.

Membaca Tanda Zaman, Bukan Sekadar Tanda Alam

Dalam Injil Lukas 12:54-59, Yesus menegur orang banyak yang mampu membaca tanda-tanda alam, tetapi tidak memahami tanda-tanda zaman.

P. Domi mengangkat pengalaman masyarakat Timor yang akrab dengan tanda-tanda alam. Daun asam yang mulai rontok, perubahan warna langit pada sore hari, hingga air kampung yang menjadi keruh dapat dibaca sebagai petunjuk mengenai perubahan kondisi alam.

Namun, pertanyaan yang lebih mendasar ialah apakah kepekaan yang sama juga digunakan untuk memahami persoalan sosial di sekitar mereka.

Rumah tidak layak huni, anak-anak putus sekolah, dan pengangguran bukan sekadar keadaan yang harus diterima sebagai nasib. Dalam refleksi tersebut, persoalan-persoalan itu menjadi tanda yang menuntut perhatian terhadap ketidakadilan dan kondisi kehidupan masyarakat.

Demikian pula, keberangkatan anak muda tanpa dokumen resmi, kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), dan maraknya judi online merupakan persoalan yang perlu dibaca secara serius karena berdampak pada keselamatan manusia, masa depan generasi muda, serta keutuhan keluarga.

Sebaliknya, ketika para ibu di kampung tetap memelihara doa bersama, kerja sama, dan kejujuran, hal itu menjadi tanda harapan bahwa nilai-nilai Kerajaan Allah terus bertumbuh dalam kehidupan sederhana masyarakat.

Bagi JPIC, membaca tanda-tanda zaman bukan sekadar mengamati persoalan, melainkan membangun kesadaran untuk hadir, mendampingi mereka yang menderita, dan mengambil langkah nyata sesuai tanggung jawab masing-masing.

Berdamai Sebelum Terlambat

Pesan lain yang mendapat penekanan dalam renungan ini ialah ajakan Yesus untuk berdamai dengan lawan selagi masih berada dalam perjalanan.

Menurut P. Domi, ajakan tersebut harus diterjemahkan ke dalam tindakan nyata, bukan hanya menjadi kata-kata rohani.

Berdamai dengan alam berarti memperbaiki hubungan manusia dengan lingkungan yang telah dirusak. Berdamai dengan sesama berarti menghentikan kekerasan, termasuk KDRT, serta meninggalkan perkataan dan sikap yang merendahkan martabat orang lain. Sementara itu, berdamai dengan Tuhan menuntut keterbukaan hati untuk bertobat dan menjalani kehidupan sesuai kehendak-Nya.

Kesempatan untuk berubah masih terbuka selama manusia masih berada dalam perjalanan hidup. Karena itu, pertobatan dan perdamaian tidak seharusnya ditunda sampai persoalan berkembang menjadi konflik yang lebih besar atau sampai seseorang berhadapan dengan pengadilan.

Iman yang Dewasa Harus Melahirkan Tindakan

Menutup refleksinya, P. Domi mengajak umat menjadikan Jumat, 23 Oktober 2026, sebagai kesempatan untuk memeriksa kehidupan pribadi sekaligus kepekaan sosial.

Setiap orang diajak bertanya: apakah kerendahan hati, kelemahlembutan, dan kesabaran telah menjadi karakter, atau hanya muncul ketika keadaan menguntungkan?

Pertanyaan berikutnya, apakah seseorang sungguh peka terhadap penderitaan tetangga, persoalan pekerja migran, kekurangan air, serta berbagai masalah sosial di lingkungan sekitarnya, atau justru hanya mampu membaca perubahan cuaca?

Renungan ini menegaskan bahwa iman yang matang harus menyatukan pembaruan diri dan kepedulian terhadap dunia. Tanda-tanda alam dapat menjadi panggilan untuk berbagi dan menjaga ciptaan, sedangkan tanda-tanda zaman menjadi dorongan untuk bertindak menghadapi ketidakadilan dan penderitaan manusia.

Bagi para pejuang JPIC SVD Timor, pesan tersebut menjadi pengingat bahwa perjuangan menegakkan keadilan, membangun perdamaian, dan menjaga keutuhan ciptaan harus dimulai dari karakter pribadi, lalu diwujudkan dalam keberanian membaca persoalan serta mendampingi mereka yang membutuhkan.

Sebab, menjadi murid Kristus bukan sekadar tentang apa yang diucapkan atau diyakini, melainkan tentang bagaimana iman itu hidup dalam tindakan nyata.

Sumber: Renungan Jiwa, P. Domi K. Dheo, SVD – JPIC SVD Timor, Soverdi Oebufu, Jumat, 23 Oktober 2026.

Berita Renungan Kembali ke Beranda
Chat via WhatsApp