Wednesday,28 October 2026
PERNYATAAN SIKAP & ADVOKASI JPIC SVD PROVINSI TIMOR

Tiga Malaikat, Satu Misi: JPIC Tak Boleh Berjuang Sendirian Melawan Ketidakadilan

Boni Antolan 29 September 2026 06:38 96 dibaca
Tiga Malaikat, Satu Misi: JPIC Tak Boleh Berjuang Sendirian Melawan Ketidakadilan

OEBUFU, 29 September 2026 — Perjuangan menegakkan keadilan dan membela martabat manusia tidak mungkin dikerjakan seorang diri. Di tengah persoalan perdagangan manusia, migrasi non-prosedural, kemiskinan, konflik agraria, bencana, hingga penyalahgunaan kekuasaan, para pejuang JPIC membutuhkan keberanian, jejaring, komunikasi, dan pendampingan yang berjalan bersama.

​Pesan itu menjadi refleksi P. Domi Kadju Dheo, SVD, Koordinator JPIC SVD Timor, bertepatan dengan Pesta Malaikat Agung Mikael, Gabriel dan Rafael, Selasa (29/9/2026).

​Mengangkat tema "Tiga Nama, Tiga Tugas, Satu Misi: Melayani Kerajaan Allah yang Kekal (Misio Dei)", P. Domi merefleksikan bacaan Daniel 7:9-10,13-14 dan Yohanes 1:47-51 sebagai panggilan bagi para pejuang JPIC untuk membangun kerja bersama dalam memperjuangkan keadilan.

​"Kamu akan melihat langit terbuka dan malaikat-malaikat Allah naik turun kepada Anak Manusia." (Yoh 1:51)

​Menurut P. Domi, penglihatan Nabi Daniel tentang Anak Manusia yang menerima kekuasaan, kemuliaan dan kerajaan yang kekal menjadi gambaran tentang tujuan akhir perjuangan: kedaulatan Allah, bukan kedaulatan uang, kekuasaan maupun perdagangan manusia.

​Tiga Malaikat, Tiga Karakter Perjuangan

​P. Domi menggambarkan Mikael, Gabriel dan Rafael sebagai tiga figur yang dapat menjadi inspirasi bagi gerakan JPIC.

​Mikael ditempatkan sebagai gambaran keberanian menghadapi kekuatan kejahatan dan ketidakadilan.

​Bagi JPIC, semangat Mikael berarti keberanian untuk menghadapi ketidakadilan struktural serta berbagai persoalan yang menindas kelompok rentan.

​Gabriel menjadi simbol komunikasi dan jejaring. Sebagai pembawa kabar, Gabriel mengingatkan bahwa perjuangan keadilan membutuhkan kemampuan membangun komunikasi, advokasi dan dialog dengan berbagai pihak.

​Sedangkan Rafael menjadi gambaran pendampingan dan penyembuhan. JPIC, menurut P. Domi, tidak cukup hanya berbicara mengenai keadilan, tetapi juga harus hadir bersama mereka yang mengalami luka dan trauma.

​"JPIC butuh semangat Mikael: keberanian untuk melawan ketidakadilan. JPIC juga membutuhkan semangat Gabriel dalam membangun komunikasi dan jejaring, serta semangat Rafael dalam mendampingi dan menyembuhkan mereka yang terluka," demikian inti refleksinya.

​Karena itu, menurut P. Domi, Mikael tanpa Gabriel dan Rafael akan menjadi perjuangan yang pincang.

​Ia mencontohkan pertemuan di Rumah Jabatan Wakil Bupati Belu yang melibatkan pemerintah daerah, unsur pekerjaan umum, pertanian, Politani, Tani Merdeka, Timor Farm, LSM dan SVD sebagai gambaran pentingnya kerja lintas pihak.

​"Jangan Berjuang Sendirian"

​P. Domi juga mengajak para pejuang JPIC untuk tidak kehilangan optimisme ketika berhadapan dengan persoalan yang tampak buntu.

​Ia merefleksikan perkataan Yesus kepada Natanael dalam Injil Yohanes 1:47-51: "Lihat, inilah seorang Israel sejati, tidak ada kepalsuan di dalamnya!"

​Bagi P. Domi, Natanael menjadi gambaran pribadi yang jujur dan tidak menjalankan perjuangan demi kepentingan pribadi.

​Janji Yesus tentang "langit yang terbuka" kemudian dimaknai sebagai sumber pengharapan bagi mereka yang memperjuangkan keadilan.

​Perjuangan JPIC, katanya, dapat menghadapi jalan buntu, kelelahan bahkan kekecewaan. Namun kondisi tersebut tidak boleh menjadi alasan untuk berhenti.

​"Ketika advokasi untuk migran mentok, ketika lahan tidur belum juga menghasilkan, ketika keadilan terasa tiada bertepi—ingatlah janji itu. Langit tetap terbuka," demikian refleksinya.

​Natanael dan Harapan yang Tidak Pernah Terlambat

​P. Domi juga mengajak para pejuang JPIC belajar dari Natanael yang semula skeptis sebelum akhirnya mengalami perubahan setelah bertemu Yesus.

​Bagi dia, kisah tersebut menjadi pesan bahwa keraguan dan kelelahan merupakan bagian dari perjalanan, tetapi harapan tidak boleh dihentikan.

​Hal-hal baik, katanya, dapat muncul dari tempat dan situasi yang tidak selalu diperkirakan.

​Karena itu, perjuangan keadilan harus terus dilakukan dengan membangun kerja sama dan jejaring.

​"Jangan berjuang sendirian. Bangunlah team work. Bangunlah jejaring," serunya.

​Menurut P. Domi, kerja bersama bukan bentuk kesombongan spiritual, melainkan kebutuhan bagi mereka yang sungguh-sungguh ingin melayani sesama.

​Ia sekaligus mengingatkan bahwa jabatan dan kekuasaan semestinya digunakan untuk pelayanan, bukan menjadi sarana mengambil keuntungan bagi diri sendiri maupun keluarga.

​"Kerajaan yang dilihat Daniel adalah Kerajaan di mana semua suku dan bangsa melayani bersama," tegasnya.

​Pada akhirnya, refleksi Pesta Malaikat Agung tersebut menjadi ajakan bagi para pejuang JPIC untuk memadukan keberanian Mikael, komunikasi Gabriel dan penyembuhan Rafael dalam satu gerakan pelayanan.

​Selama perjuangan keadilan masih berlangsung, pesan P. Domi sederhana namun tegas: jangan berjalan sendiri, jangan kehilangan harapan, dan jangan berhenti memperjuangkan martabat manusia.

​Selamat Pesta Malaikat Agung Mikael, Gabriel dan Rafael.

Berita PERNYATAAN SIKAP & ADVOKASI JPIC SVD PROVINSI TIMOR Kembali ke Beranda
Chat via WhatsApp