PESTA ST. THERESIA DARI YESUS
PESTA ST. THERESIA DARI YESUS
Kamis, 15 Oktober 2026
-
Efesus 1:1-10 | Lukas 11:47-54
Pater dan Suster, bacaan hari ini bukan kebetulan. Gereja dengan sengaja memilih dua bacaan ini untuk menjelaskan siapa Theresia dari Avila dan mengapa ia relevan untuk perang kita melawan human trafficking hari ini.
Mari kita masuk lebih dalam.
BACAAN I: EFESUS 1:1-10 - ALLAH MEMILIH KITA SEBELUM ADA CALO DAN PETI
Paulus membuka suratnya dengan kalimat yang menghancurkan semua kesombongan dan semua keputusasaan kita:
_"Terpujilah Allah... sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya." (Ef 1:3-4)_
➕ selanjutnya: _"Dalam kasih Ia telah menentukan kita dari semula untuk menjadi anak-anak-Nya oleh perantaraan Yesus Kristus." (Ef 1:5)_
Apa artinya ini untuk Theresia dan untuk kita?
Theresia adalah bukti hidup ayat ini.
Theresia lahir dari keluarga bangsawan yang menganggap perempuan hanya untuk menikah dan menghasilkan keturunan. Masuk biara pada zamannya bukan panggilan, tapi pembuangan agar harta tidak terbagi. Sistem mengatakan: kamu tidak berharga, kamu adalah barang keluarga.
Tapi sebelum sistem itu ada, sebelum bangsawan Avila menentukan nasibnya, Allah sudah memilih Theresia untuk menjadi kudus dan menjadi anak. Bukan menjadi barang.
Itulah pengalaman mistiknya yang terkenal: ketika ia masuk ke Puri Batin yang terdalam, ia menemukan bahwa di pusat jiwanya ada Allah yang bersemayam. Ia bukan barang keluarga. Ia adalah anak Allah. Puri Batin itu terbuat dari berlian.
Dari penemuan inilah ia berani melawan seluruh sistem biara yang menindas perempuan. Karena ia tahu siapa dirinya di hadapan Allah sebelum dunia dijadikan.
Hubungan dengan trafficking:
Human trafficking adalah sistem yang berkata persis seperti sistem bangsawan Avila: Kamu adalah barang. Tubuhmu punya harga. Martabatmu tergantung uang yang kamu kirim.
Korban trafficking yang kita dampingi kehilangan Efesus 1 ini. Ia lupa bahwa ia sudah dipilih sebelum calo itu lahir. Ia merasa najis, merasa barang bekas, merasa tidak layak.
Tugas pencegahan trafficking yang paling dalam bukan membuat spanduk. Tugasnya adalah mengembalikan Efesus 1 ke dalam hati korban:
_Anakku, sebelum calo itu mengenalmu, Allah sudah memilihmu. Sebelum kamu dijual, kamu sudah menjadi anak. Martabatmu bukan dari Malaysia. Martabatmu dari sebelum dunia dijadikan._
Theresia membangun kembali martabat perempuan bukan dengan ceramah feminisme, tapi dengan membawa mereka masuk ke Puri Batin untuk bertemu Bapa yang telah memilih mereka sejak semula. Itulah pemulihan sejati.
Jika kita sebagai JPIC tidak membawa korban masuk ke Puri Batin ini, kita hanya akan memulangkan tubuh, tapi jiwanya akan kembali dijual, karena ia belum tahu siapa dirinya.
BACAAN INJIL: LUKAS 11:47-54 - YESUS MENUNTUT DARAH DARI PARA PEMBANGUN MAKAM
Injil hari ini adalah Injil yang paling keras dan paling profetik.
Yesus berkata kepada orang Farisi dan ahli Taurat:
_"Celakalah kamu, sebab kamu membangun makam nabi-nabi, padahal nenek moyangmulah yang telah membunuh mereka. Dengan demikian kamu mengaku, bahwa kamu membenarkan perbuatan nenek moyangmu... Sebab itu hikmat Allah berkata: Aku akan mengutus kepada mereka nabi-nabi dan rasul-rasul dan separuh dari antara nabi-nabi dan rasul-rasul itu akan mereka bunuh dan mereka aniaya, supaya dari angkatan ini dituntut darah semua nabi yang telah tertumpah sejak dunia dijadikan." (Luk 11:47-51)_
Theresia adalah nabi yang hampir dibunuh oleh para pembangun makam itu.
Pada zaman Theresia, Gereja sangat suka membangun makam. Gereja membangun katedral megah untuk menghormati para kudus yang sudah mati. Tapi ketika ada nabi hidup - seorang perempuan bernama Theresia yang berkata: "Biara kita korup, kita harus kembali miskin dan berdoa" - Gereja yang sama itu mengancamnya dengan Inkuisisi. Mereka mau membungkamnya. Mereka bilang ia gila, sesat, perempuan yang tidak tahu diri.
Theresia mengalami persis apa yang dikatakan Yesus: orang-orang yang membangun makam para kudus, adalah orang-orang yang sama yang membunuh nabi yang hidup.
Ia dituduh, difitnah, biara barunya mau dihancurkan oleh wali kota Avila. Tapi ia tetap teguh karena ia rendah hati. Ia tidak membela diri dengan kuasa, tapi dengan ketaatan dan kebenaran.
Hubungan dengan trafficking - inilah yang menukik jiwa:
Bukankah kita hari ini juga menjadi pembangun makam?
Kita hebat membangun makam yang indah untuk para korban trafficking: misa arwah yang megah, karangan bunga besar, sambutan resmi di bandara, spanduk duka cita. Kita menangis di depan peti jenazah.
Tapi ketika ada nabi hidup yang berseru di tengah kita:
Seorang OMK yang berkata: Romo, calo itu adalah tetangga kami, dia ada di gereja tiap Minggu.
Seorang janda yang berkata: Suster, kades yang tanda tangan surat jalan suami saya.
Seorang staf kecil yang berkata: Pater, program kita tidak jalan karena kita hanya rapat di hotel.
Apa yang kita lakukan? Kita menyuruhnya diam. Jangan ribut. Jaga nama baik. Jangan merusak relasi dengan pemerintah.
Kita menghormati korban yang sudah mati dengan membangun makamnya, tapi kita membunuh nabi yang hidup yang mau menghentikan kematian berikutnya.
Maka darah itu, kata Yesus hari ini, akan dituntut dari angkatan ini. Dari angkatan kita, kaum religius, para ahli Taurat zaman ini yang tahu hukum, tahu Kitab Suci, tapi tidak berani masuk ke dalam Puri Batin dan bertindak.
Theresia mengajarkan kita untuk berhenti menjadi pembangun makam. Jadilah pembangun rumah doa yang kecil, miskin, tapi jujur. Dari rumah kecil itulah, kejahatan besar akan runtuh.
PENUTUP: DARI SOVERDI KE AVILA
Maka Pesta Theresia hari ini adalah peringatan keras untuk JPIC:
Efesus mengingatkan kita SIAPA kita: Kita adalah anak-anak yang sudah dipilih sebelum ada trafficking, untuk menjadi kudus. Martabat korban ada di sini.
Lukas mengingatkan kita APA dosa kita: Kita adalah pembangun makam yang menangisi korban mati tapi membungkam nabi hidup.
Theresia mengajarkan kita BAGAIMANA keluarnya: Ambil sapu. Kembali ke yang kecil. Kembali ke doa. Kembali ke komunitas 13 orang yang miskin tapi setia. Bangun kembali Puri Batin setiap anak perempuan Timor dan katakan: Kamu bukan barang. Kamu adalah Puri Berlian Allah.
Itulah pencegahan trafficking yang paling radikal. Dan itu dimulai bukan di seminar Atambua hari ini, tapi nanti malam ketika kita berlutut dan berdoa dengan rendah hati.Tuhan memberkaTi..Amin
Provinsialat SSPS Timor-Atambua
P. Domi K Dheo, SVD - JPIC SVD Timor