Wednesday,28 October 2026
Renungan

P. DOMI SVD: MENJADI HAMBA SETIA BERARTI MELAYANI, MELINDUNGI KORBAN, DAN MELAWAN KETIDAKADILAN

Boni Antolan 21 October 2026 18:49 34 dibaca
P. DOMI SVD: MENJADI HAMBA SETIA BERARTI MELAYANI, MELINDUNGI KORBAN, DAN MELAWAN KETIDAKADILAN

RENUNGAN JIWA — Panggilan menjadi hamba Tuhan bukan sekadar soal ketaatan dalam doa dan ibadah, melainkan keberanian melayani sesama, menolak perdagangan orang, melindungi korban kekerasan, serta mendampingi mereka yang terluka untuk bangkit kembali. Pesan ini disampaikan P. Domi K. Dheo, SVD, dari JPIC SVD Timor dalam renungan Renungan Jiwa, Rabu (21/10/2026), dengan bertolak dari bacaan Kitab Suci tentang kesetiaan seorang hamba dan tanggung jawab atas kepercayaan yang diberikan Tuhan.

Dalam renungannya bertajuk “Menjadi Hamba yang Taat Setia: Panggilan Kita Semua”, P. Domi menegaskan bahwa panggilan melayani bukan hanya milik pastor dan suster, tetapi juga anak muda, orang tua, para pejuang kemanusiaan, serta korban yang sedang menjalani proses pemulihan.

Bertolak dari Efesus 3:2-12 dan Lukas 12:39-48, ia mengajak umat melihat kesetiaan bukan sekadar sebagai sikap menunggu, melainkan kesiapsediaan untuk bertindak ketika sesama membutuhkan pertolongan.

“Panggilan ini bukan hanya untuk pastor dan suster. Panggilan ini untuk semua kita,” demikian penegasan dalam renungan tersebut.

Anak Muda Jangan Terjebak Janji Manis Perekrut Ilegal

Kepada anak-anak muda Timor, P. Domi mengingatkan bahaya tawaran pekerjaan yang menjanjikan uang cepat, tetapi justru berpotensi menjerat mereka dalam eksploitasi, utang, dan persoalan dokumen perjalanan.

Ia mengontraskan kesetiaan kepada Tuhan dengan ketundukan pada pihak-pihak yang memanfaatkan harapan anak muda demi keuntungan pribadi.

Menurutnya, menjadi hamba yang setia berarti berani memilih pendidikan, keterampilan, dan masa depan yang dibangun secara jujur, bukan mudah tergoda oleh janji pekerjaan di luar negeri yang belum jelas kebenarannya.

Pesan ini menjadi penting di tengah upaya pencegahan perdagangan orang dan keberangkatan pekerja migran secara nonprosedural. Anak muda perlu dibekali keberanian untuk memeriksa informasi, mengenali risiko perekrutan, dan menolak tawaran yang mencurigakan.

P. Domi juga mengingatkan bahwa masa muda, tenaga, dan kemampuan yang dipercayakan Tuhan harus digunakan untuk membuka jalan bagi harapan, bukan justru membuka pintu bagi mereka yang hendak mengeksploitasi kerentanan.

Kesetiaan Keluarga Harus Terwujud dalam Tindakan

Dalam kehidupan keluarga, P. Domi mengajak para orang tua menghadirkan nilai-nilai Injil melalui sikap saling menghormati, kesediaan mengampuni, dan tanggung jawab terhadap pasangan serta anak-anak.

Ia menekankan bahwa anak laki-laki dan perempuan memiliki martabat yang sama dan berhak memperoleh kesempatan untuk bertumbuh.

Kesetiaan dalam keluarga, menurut refleksi tersebut, tidak cukup diungkapkan melalui janji pernikahan atau tuntutan terhadap pasangan. Kesetiaan harus nyata dalam kesediaan mendengarkan anak yang mengalami kesulitan, mendampingi pasangan yang kelelahan, dan membangun kembali hubungan yang retak.

P. Domi juga menyoroti persoalan judi daring, kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), dan praktik adat yang dapat menjadi beban bagi keluarga apabila tidak dijalankan dengan menghormati martabat manusia.

Ia mengajak keluarga yang mengalami keretakan untuk kembali membangun kedekatan melalui pengampunan, tanggung jawab, dan kerja sama.

Pejuang JPIC Jangan Menghakimi Korban

Pesan yang paling kuat dalam renungan tersebut diarahkan kepada para pejuang Justice, Peace and Integrity of Creation (JPIC), baik pastor, bruder, suster maupun kaum awam yang terlibat dalam pelayanan kemanusiaan.

P. Domi mengingatkan bahwa semakin besar kepercayaan yang diterima, semakin besar pula tanggung jawab yang harus dijalankan.

Pengetahuan mengenai Undang-Undang Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO), kepercayaan masyarakat, serta pengalaman mendampingi korban harus menjadi dasar pelayanan yang bertanggung jawab, bukan sarana mencari pengakuan atau panggung.

Ia mengajak para pendamping untuk tidak mudah menyalahkan korban yang kembali masuk ke dalam situasi berbahaya, menghakimi perempuan yang belum siap melaporkan KDRT, atau menyerah ketika masyarakat belum sepenuhnya memahami persoalan yang dihadapi.

Dalam situasi seperti itu, kesetiaan diuji melalui kesabaran dan konsistensi mendampingi korban.

Pendampingan kemanusiaan, menurut pesan tersebut, menuntut keberanian untuk tetap hadir, mendengarkan, dan membuka jalan bagi pemulihan, sekalipun prosesnya panjang dan tidak selalu berjalan sesuai harapan.

Korban Bukan Barang Bekas, Martabatnya Harus Dipulihkan

Kepada mereka yang pernah mengalami kekerasan, eksploitasi, atau perdagangan orang, P. Domi menyampaikan pesan pemulihan yang tegas: pengalaman pahit tidak menghapus martabat seseorang di hadapan Tuhan.

Mengacu pada pesan Santo Paulus dalam Efesus 3, ia mengingatkan bahwa mereka yang dahulu dianggap jauh kini dipanggil menjadi bagian dari keluarga Allah dan turut menerima janji keselamatan dalam Kristus.

“Engkau bukan barang bekas,” demikian pesan yang ditujukan kepada para korban dalam renungan tersebut.

Pesan ini menempatkan korban bukan sebagai pihak yang harus terus-menerus didefinisikan oleh masa lalunya, melainkan sebagai pribadi yang memiliki martabat, harapan, dan kesempatan untuk membangun kembali kehidupannya.

P. Domi mengajak mereka menjalani proses pemulihan dengan tetap membuka hati bagi pertolongan Tuhan dan dukungan orang-orang yang bersedia mendampingi tanpa menghakimi.

Kesaksian para penyintas juga dapat menjadi sumber kekuatan bagi sesama, tetapi proses berbagi pengalaman harus menghormati kesiapan, keamanan, dan pilihan korban sendiri.

Kesetiaan Diukur dari Keberanian Membuka Pintu bagi Sesama

Menutup renungannya, P. Domi mengajak umat merefleksikan satu pertanyaan mendasar: apakah hati mereka selalu siap menyambut Tuhan yang hadir melalui orang-orang yang membutuhkan pertolongan?

Ia menggambarkan kehadiran Tuhan melalui anak muda yang membutuhkan nasihat agar tidak terjebak dalam keberangkatan nonprosedural, orang tua yang sedang menghadapi kegagalan, perempuan yang mengalami KDRT, serta masyarakat yang memperjuangkan keadilan di Tanah Timor.

Melalui gambaran tersebut, ia menegaskan bahwa iman tidak boleh berhenti pada kata-kata dan ritual keagamaan. Iman harus menjelma menjadi tindakan nyata yang melindungi kehidupan, memulihkan martabat, dan memperjuangkan keadilan.

Renungan yang disampaikan dari Biara Santu Yoseph Nenuk, Rabu (21/10/2026), itu ditutup dengan ajakan kepada semua orang untuk menjadi hamba yang setia, berjaga-jaga, dan siap melayani.

Sebab, kesetiaan sejati tidak diukur dari seberapa sering seseorang berbicara tentang Tuhan, tetapi juga dari kesediaannya menghadirkan kasih Tuhan bagi mereka yang paling membutuhkan.

“Selamat menjadi hamba yang taat setia.”

P. Domi K. Dheo, SVD
JPIC SVD Timor
Biara Santu Yoseph Nenuk, 21 Oktober 2026

Berita Renungan Kembali ke Beranda
Chat via WhatsApp